web hit counter Natalius Pigai Sebut Jokowi Takut Terhadap Myanmar | SILAHKAN BAGIKAN

Natalius Pigai Sebut Jokowi Takut Terhadap Myanmar


JAKARTA - Etnis Rohingya telah berabad-abad lamanya menempati Teluk Benggal. Di seberang barat wilayah kehidupan mereka ditempati oleh bangsa Bangladesh dan di timur bangsa Burma. Sebelumnya Burma merdeka 1942 oleh kerajaan Inggris, etnik Rohingya sudah menempati lama di wilayah rakhine yang saat ini disebut Rakhine State.

Mereka yaitu suku Benggal penghuni selatan dan penghuni utara suku bangsa Austro Asia atau Thai Khadal yang kebanyakan menyebut suku bangsa Sino Tibetian. Demikian diceritakan komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Natalius Pigai dalam keterangannya pada redaksi, Minggu (3/9/2017). Tetapi saat ini, mereka terusir dari negerinya.

"Apa yang salah dengan mereka sehingga ribuan etnis Rohingya terusir dari negerinya, Rakhine State," tanya Pigai. Sekarang ini ribuan manusia perahu menyeberangi samudera India, Teluk Bengali serta Laut Andaman yang terkenal ganas cuma untuk mencari hidup dan kehidupan. Pada saat situasi tragedi bangsa muslim Rohingya menurut Pigai, begitu naif bila Indonesia diam seribu bahasa. Presiden Jokowi dan seluruh rakyat Indonesia menyesalkan akan aksi kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar.

"Kita tidak mampu melakukan perang diplomatik dengan Myanmar. Seharusnya kita tingkatkan tekanan diplomatik untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan terhadap umat muslim oleh pemerintah Myanmar," tegasnya.

 Pigai mengingatkan, politik luar negeri Indonesia adalah aktif, dalam artian membuat perdamaian dunia. Jadi negara ASEAN dan muslim paling besar dunia, Pigai menyebutkan, pemerintah Indonesia janganlah takut mengambil risiko untuk menekan pemerintah Myanmar.

 "Sekali lagi pemerintah jangan takut tekan pemerintah Myanmar hanya karena terikat dengan traktat ASEAN yang non intervensi urusan domestik," imbuh Pigai.

 Pada saat ini, lanjut Pigai, Jokowi mesti belajar dari pengalaman Sukarno. Walau Sukarno serta Nehru yaitu sahabat karib, bahkan juga India sediakan tanah lima hektar untuk kantor kedutaan besar di Canakyapuri, New Delhi. Tetapi saat perang India serta Pakistan 1965, Sukarno kirim kapal perang Angkatan Laut bantu Pakistan karna solidaritas Islam. Bahkan juga Sukarno memusuhi Nehru yang sahabat karibnya.

 "Kalau Sukarno saja bisa meninggalkan persahabatan dengan Nehru India, mengapa Jokowi begitu takut terhadap Myanmar?," kata Pigai.

 Namun semua tudingan Natalius Pigai, langsung dijawab oleh Presiden Jokowi yang sudah menyesalkan tragedi kekerasan terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Bagi Jokowi, perlu aksi nyata untuk menuntaskan krisis Rohingnya. Bukan sekedar mengecam tanpa menunjukkan aksi nyata. "Saya dan seluruh rakyat Indonesia, kita menyesalkan aksi kekerasan yang terjadi Rakhine State, Myanmar, perlu aksi nyata, bukan hanya pernyataan kecaman-kecaman," ujar Jokowi di Istana Kepresidenan, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Minggu (3/9/2017).

 "Pemerintah berkomitmen terus untuk membantu krisis kemanusiaan, bersinergi dengan kekuatan masyarakat sipil Indonesia dan juga masyarakat internasional," ungkap Jokowi. Sampai saat ini untuk penanganan kemanusiaan aspek konflik tersebut, pemerintah telah mengirim bantuan makanan dan obat-obatan. Pada bulan Januari dan Februari sebanyak 10 kontainer. Juga telah membangun sekolah di Rakhine State dan juga segera akan membangun rumah sakit yang akan dimulai pada bulan Oktober yang akan datang di Rakhine State serta menampung pengungsi dan memberikan bantuan yang terbaik.

Jokowi sudah menugaskan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia menjalin komunikasi insentif dengan berbagai pihak termasuk Sekretaris Jenderal PBB Bapak Antonio dan Komisi Penasihat Khusus Untuk Rakhine State, Bapak Kofi Annan. Minggu (03/9/2017) Menteri Luar Negeri telah berangkat ke Myanmar, untuk meminta pemerintah Myanmar agar menghentikan dan mencegah kekerasan, agar memberikan perlindungan kepada semua warga termasuk muslim di Myanmar, dan agar memberikan akses bantuan kemanusiaan.

 Selain ke Myanmar, Jokowi juga sudah menugaskan Menteri Luar Negeri untuk terbang ke Dhaka, di Bangladesh, dalam rangka menyiapkan bantuan kemanusiaan yang diperlukan pengungsi-pengungsi yang berada di Bangladesh. Segala upaya ini, tentu sudah menunjukkan, jika pemerintah Indonesia di bawah Presiden Jokowi tidak tinggal diam. Justru sebaliknya sudah bergerak. Bahkan pujian untuk upaya Indonesia sudah ditunjukkan oleh mantan Sekjen PBB, Kofi Anan. Hanya sayang di Indonesia, tragedi di Myanmar justru dipolitisasi dengan menuduh pemerintah RI belum berbuat banyak untuk muslim Rohingya.

sumber : breakingnews.co.id
Baca Lebih Lengkap di Halaman Selanjutnya >> :

Halaman Berikutnya:


Silahkan Like Dan Share :) Terimakasih